
Banjarmasin, — Suasana Idul Adha 1446 H terasa begitu hangat dan penuh kebersamaan di Komplek Surya Sakti RT 33, Banjarmasin. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kekompakan warga kembali terlihat nyata dalam pelaksanaan kegiatan qurban. Namun, tahun ini ada yang berbeda: generasi muda mulai turut ambil bagian.
Anak-anak yang dulu hanya menjadi penonton, kini mulai terlibat langsung sebagai bagian dari panitia qurban. Mereka membantu dalam berbagai hal, mulai dari pengaturan logistik hingga distribusi daging kepada masyarakat. Sebuah perkembangan yang patut diapresiasi.

“Senang sekali melihat anak-anak sekarang mulai aktif terlibat. Dulu mereka hanya melihat dari kejauhan, sekarang sudah ikut gotong sapi,” ujar Nuri Syuhud Haridi, salah satu warga RT 33.
Kegiatan qurban sendiri dilaksanakan pada Sabtu, 7 Juni 2025 atau bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1446 H. Sejak pagi, warga mulai berdatangan ke lapangan komplek untuk bergotong royong dalam penyembelihan dan pendistribusian daging qurban. Tahun ini, panitia mencatat tiga ekor sapi yang disembelih, dengan ratusan kupon daging dibagikan kepada masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah kegiatan qurban tahun ini berjalan lancar. Antusiasme warga luar biasa, mulai dari persiapan hingga pembagian daging,” ungkap Nor Alfian, Ketua Panitia Qurban RT 33.

Ketua RT 33, M. Mauliddin. A, turut memberikan apresiasi atas keterlibatan seluruh warga, “Semangat gotong royong seperti ini yang perlu terus dijaga. Semoga menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.”
Tak hanya semangat kebersamaan yang terasa, kegiatan ini juga diabadikan dalam sebuah karya fotografi dokumenter yang kuat dan penuh makna. Foto tersebut diambil oleh Atif Almirza Kadafi, seorang seniman visual digital yang telah banyak berkarya di berbagai wilayah, mulai dari Papua hingga Afrika. Dengan gaya khas yang memadukan nuansa sinematik dan realisme, Atif berhasil menangkap momen qurban di RT 33 dalam sebuah potret yang terasa hidup dan bercerita.
Momen ini menjadi pengingat bahwa kekuatan komunitas terletak pada kebersamaan dan keterlibatan lintas generasi. Di RT 33, nilai-nilai itu terus tumbuh—bukan hanya dipertahankan, tapi juga diwariskan.



